“Duluan ki bikin klarifikasi daripada minta maaf di saya. Besok paginya pi (baru minta maaf),” tutur Bunga menyikapi permohonan maaf Lala. Selain daripada ucapan kontroversial tersebut, Lala juga menekan lebih lanjut perihal layanan pemulihan kepada Bunga. Sebelumnya, Nurul Auliya Amin, salah satu anggota Satgas PPKS Unhas sempat menawarkan kembali layanan pemulihan. Bunga menolak. “Nah, Lala lagi ngechat tiba-tiba, ‘Kenapa tidak mau lagi mendapatkan layanan psikolog?’” ujarnya. Setelah itu, Bunga sempat didorong oleh Lala untuk kembali menemui psikolog semata-mata agar Bunga dapat dikata masih mendapat layanan pemulihan oleh Satgas PPKS Unhas. “Agak marah ki di sini,” ungkap Bunga. Bahkan, Bunga merasa dituding telah bertindak terlalu jauh oleh Lala. “Jangan kau (Firman Saleh) lakukan ki kalau kau nda mau konsekuensinya. Jangan kau berpikir kau lakukan itu, kau lakukan sama orang yang nda berani bertindak. Selama ini berpikir ki aman,” tegasnya. Sedikit mundur ke tanggal 13 November 2024, sehari setelah terbitnya SK sanksi skorsing pelaku, Bunga sempat memberanikan diri untuk ke kampus. Alasannya ialah mengumpulkan draf proposal skripsinya di ruang program studinya. Sebelum tiba, sesegera mungkin ia dihubungi oleh ketua program studinya, yang mengetahui keberadaan pelaku di sekitar program studinya. “Jangan ko dulu naik, ada ki (pelaku) di prodi (program studi),” Bunga menirukan peringatan dosennya itu. Menyikapi kedatangan pelaku, Bunga mengaku takut saat itu. Kekesalannya memuncak melihat pelaku kala itu seperti orang yang tidak punya urat malu. Datang Tak Dijemput, Pulang Tak Diantar Seolah-olah badai masih belum berhenti menerpa Bunga, traumanya sebagai korban kekerasan seksual kemudian diperburuk oleh segelintir intimidasi yang datang dari Unhas. Sekitar jam 11 malam, pada tanggal 20 November 2024, ketika Bunga hendak pergi dari rumahnya, ia sempat dicegat oleh tetangganya. Saat itu, Bunga yang merasa tidak aman sebenarnya sudah berencana untuk pindah rumah. Sosok yang mencegatnya ialah salah seorang dosen di FIB. “Datang ki ini dosen lari dari rumahnya bilang, ‘jangan ko dulu pergi, ada Polsek Tamalanrea mau datang,’” pungkasnya. Akhirnya, Bunga kedatangan tamu tak diundang yakni pihak kepolisian sebanyak 7 orang tanpa seragam. Bahkan, para polisi ini hendak menerobos masuk ke dalam rumahnya. Namun, Bunga enggan mengizinkan. Meskipun tanpa adanya surat tugas yang mendasari maksud kedatangan itu, Bunga mau tak mau terpaksa kooperatif. Mereka pun akhirnya berbicara di rumah dosen tersebut.

Select target paragraph3