Nobar Film Pesta Oligarki dilarang, Kampus Tak Lagi Memerdekakan?... 3 of 9 https://www.nasionalmerdeka.com/nobar-film-pesta-oligarki-dilarang-... dipertentangkan dengan suara lantang tanpa takut. Tempat setiap individu diuji dan menempa kebebasan berpikir. Namun, ketika nobar film ini dilarang, secara # tidak langsung ada pesan tersirat yang disampaikan ke mahasiswa, yaitu jangan berpikir di luar batas, jangan berdiskusi yang tidak sesuai arus, jangan mencoba menjadi kritis, tetaplah menjadi pribadi-pribadi yang taat dan lugu. Sesunggunya jika kebebasan dan kemerdekaan berdiskusi dan berdebat ini dipangkas, kampus telah mengkhianati dirinya sendiri sebagai wadah untuk melahirkan manusia merdeka. Kampus telah bertransformasi menjadi tak lebih dari sekedar pabrik pencetak budak-budak naif layaknya robot yang sekadar mengikuti arahan dari pemegang remote, bukan mencetak pemikir dan intelektual merdeka dan kritis. Pesta Oligarki, dokumenter berdurasi 53 menit, sebenarnya hanyalah salah satu bentuk eksplorasi kritis terhadap demokrasi di Indonesia. Film ini membawa perspektif dari tokoh-tokoh intelektual, seperti Muhammad Isnur dari YLBHI, Eko Prasetyo dari Social Movement Institute, hingga akademisi hukum ternama seperti Prof. Sigit Riyanto, Guru Besar Hukum Tata Negara, FH UGM. Mereka mengangkat isu tentang ambang batas pencalonan presiden yang dianggap menutup peluang calon alternatif, praktik politik transaksional, hingga janji kampanye yang sering hanya jadi hiasan, bukan realisasi. Film ini menggambarkan ironi demokrasi kita, pesta yang harusnya jadi perayaan rakyat, justru berubah menjadi arena pesta oligarki. Ironisnya, kampus tidak meresponnya dengan cara yang demokratis, apalagi kritis, melainkan dengan membatasi. Sebagai alumni saya merasa sangat sedih dengan kenyataan ini. Sekontroversi apapun ide dan pesan yang disampaikan oleh sutradara penggarap film tersebut seharusnya kampus tetap memberi ruang dan jika perlu para Intelektual yang ada di sana memfasilitasi mahasiswa untuk berdebat dan bersilang pendapat secara merdeka dan terhormat. Karena sudah semestinya Kampus sebagai rumah intelektual menjadi tempat di mana kontroversi tidak hanya diterima, tetapi dihargai. Sebaliknya jika wacana kritis dilarang, kampus secara tidak langsung mengerdilkan 22/11/24 11.11

Select target paragraph3