11/19/24, 11:24 AM
Menelisik Isu Pelecehan Di Festival Teater Jakarta 2024
sendiri. Digagas oleh almarhum Wahyu Sihombing 51 tahun silam, FTJ kini adalah festival
teater tertua di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Akan tetapi, perjalanan yang panjang itu tak lantas membuat gelaran FTJ mendekati situasi
ideal. Di usianya yang ke-51, FTJ justru dibayang-bayangi oleh isu pelik, yakni kurangnya
jaminan ruang aman bagi pelaku seni perempuan.
Seorang pelaku teater perempuan, bernama Perempuan, mengaku dilecehkan, hingga
akhirnya memutuskan mundur dari keikutsertaan kelompoknya di FTJ tahun ini, tapi FTJ
terus berjalan.
Dewan Kesenian Jakarta selaku pemilik IP dan juga yang memandu pelaksanaan FTJ,
kemudian mengeluarkan pernyataan sikap dan keputusan.
Diumumkan dengan tegas bahwa benar telah terjadi pelecehan seksual secara verbal oleh
seorang pelaku teater laki-laki (dalam pernyataan itu disebut bernama Joind Bayuwinanda)
kepada Perempuan. Dari situ, diumumkan bahwa kelompok teater pelaku (Sindikat Aktor
Jakarta) dianulir keikutsertaannya di FTJ. Bahkan, setelah itu, Ketua Panitia FTJ pun diganti.
DKJ “Menganulir partisipasi pelaku dan dan kelompok Sindikat Aktor Jakarta dari Festival
Teater Jakarta 2024”, sebagaimana diumumkan lewat media sosial pada 11 Oktober 2024.
Namun itu tak benar-benar menyelesaikan masalah. Perempuan dan kelompoknya telah
mundur. Jika bertolak dari pernyataan resmi DKJ, maka Perempuan adalah korban pelecehan
seksual verbal, sehingga seharusnya mendapat perlindungan, termasuk perlindungan yang
menjamin keberlanjutan aktivitas berkeseniannya.
Perempuan dan kelompoknya telah merampungkan produksi karya teater untuk FTJ. Kini,
karya itu kehilangan akses ke panggung.
Perempuan mengatakan kepada Validnews, bahwa kemunduran kelompoknya disayangkan
oleh banyak pihak. Namun, Perempuan merasa lebih kecewa lagi, menilai pihak-pihak
tersebut tak memiliki kepekaan yang baik untuk memahami adanya persoalan lebih
mendesak di FTJ ketimbang soal mundurnya kelompok Perempuan, yaitu absennya jaminan
keamanan berkesenian bagi perempuan tadi.
"Saya melihat panitia, juga DKJ pun, tidak memiliki kepekaan yang cukup di sini, untuk
melihat bahwa ini ada masalah yang lebih besar, lho, di FTJ ini. Apa pentingnya keikutsertaan
kelompok saya dibandingkan masalah pelecehan ini, urgensi ruang aman ini?" ungkap
Perempuan melalui sambungan telepon pada 14 Oktober 2024.
Ada banyak pihak yang mencoba membicarakan, mengkritik dan menunjukkan solidaritas
untuk Perempuan di media sosial. Tapi itu tak cukup, karena FTJ terus bergulir seakan tak
https://validnews.id/kultura/menelisik-isu-pelecehan-di-festival-teater-jakarta
2/7