Tengah Pentas, Teater Selembayung Diusir dari Ruang Rapat Paripurn... 3 of 6 https://www.pojokseni.com/2023/08/tengah-pentas-teater-selembayung-... juga acara tersebut. Pertunjukan akhirnya dimulai, dan disaksikan oleh para tamu yang sudah satu persatu masuk ke gedung. Baru saja berjalan 10 menit, tiba-tiba ada petugas yang menutup jalur keluar masuk aktor, dan kemudian petugas lainnya datang untuk menghentikan pertunjukan. "Alasannya adalah gubernur mau masuk, jadi kami diminta berhenti," lanjut Fedli. Para aktor dan anak-anak tersebut diarahkan oleh petugas untuk keluar dari ruangan. Tentu saja, hal itu membuat Fedli Aziz kecewa berat. Hal yang paling membuat kecewa adalah hancurnya mental anak-anak yang bermain sepenuh hati di pertunjukan tersebut. Anak-anak itu, lanjut Fedli, adalah anak-anak yang tadinya begitu bahagia bisa pentas di sebuah ruangan yang mewah dan banyak bunga, serta ditonton oleh banyak orang dewasa. Namun, kejadian itu menghancurkan semangat anak-anak yang sudah latihan sejak bulan Juli lalu. Fedli menambahkan, ironisnya pertunjukan tersebut mungkin hanya menyisahkan 5 menit lagi paling lama. Sedangkan dari pengusiran aktor dan anak-anak tersebut, rombongan gubernur baru tiba di dalam ruang rapat lebih dari 20 menit kemudian. Masih ada cukup waktu untuk menyelesaikan pertunjukan tersebut, ketimbang harus menghancurkan mental anak-anak. ! % # $ $ % 6 % #," # 3 .% #53 % 1 Penyair dan penulis asal Riau, Mulyati Umar yang juga menjabat sebagai kepala salah satu SDN di Pekanbaru mengkritik keras kejadian tersebut. Menurut Mulyati, pihaknya sebagai pendidik, terus menjaga dan melatih anak-anak agar berani dan punya kepercayaan diri. "Tapi, di gedung terhormat, kejadian tersebut justru menjadi sebuah kenangan pahit bagi anak-anak itu. Mental mereka dijatuhkan," kata Mulyati. Sedangkan Ketua Jikalahari (NGO), Made Ali berpendapat bahwa peristiwa tersebut menjadi bukti kegagalan total gubernur Riau menginternalisasi kebudayaan. Made Ali mempertanyakan, bukankah sudah ada UU Propinsi Riau. "Barangkali secara langsung gubernur tak terlibat, namun secara tak langsung gubernur gagal menginternalisasikan nilai kebudayaan pada birokrasi," terang Made Ali. Made Ali menambahkan, hal ini justru menjadi semacam pelecehan bagi kreasi dan asa anakanak tersebut. "Anak-anak yang tampil yang sedang menunjukkan kreasinya, hobinya, juga pewaris kebudayaan Melayu. Kasihan sekali mereka. Tidak ada kata lain, mulai hari ini, apalagi, lawanlah," tegas Made Ali. Sastrawan yang juga staf ahli Gubernur Riau, Deni Kurnia mengutuk keras kejadian itu. Ia menyebut penghentian pertunjukan seperti itu adalah hal yang tidak beradat. 09/10/23 08.26

Select target paragraph3