Bunga berpikir bahwa layanan pemulihan ini hadir untuk menelisik kembali trauma akibat kejadian serta jalan keluarnya. Namun, apa yang diperolehnya justru tidak sesuai harapan. “Ditanya ka di psikolog bilang, ‘jangan mako pikir ini karena bukan ranahmu.’ Bagaimana (mungkin) nda kupikir?!” tegasnya. Karena merasa tidak efektif, akhirnya Bunga mengusaikan layanan pemulihan tersebut. Begitu pun dengan psikolognya, karena melihat kondisi Bunga yang tampaknya sudah mampu mengatur emosinya dengan baik. “Pada saat itu nda suka ka (layanan pemulihannya) karena saya kira kayak mau ji diketahui ini traumaku. Kenapa malah disuruh ka (berhenti pikirkan kasusnya).” Berkenaan dengan SK sendiri, nomor Whatsapp salah satu anggota Satgas PPKS Unhas, Qaiatul Muallima atau yang sering dipanggil Lala, merupakan salah satu jalur komunikasi Bunga untuk mengetahui kepastian SK tersebut. Namun, alih-alih dari Lala, Bunga telah seminggu lebih dahulu mendapatkan SK tersebut. Lala baru mengirimkan SK tersebut via chat Whatsapp pada tanggal 19 November 2024. Pada kesempatan yang sama, Lala juga menyayangkan tindakan yang telah diambil oleh Bunga dengan mempersoalkan kasusnya lewat Tribun Timur yang terbit pada 18 November 2024—liputan pertama yang mencuatkan nama Bunga. “Nah dia bilang, ‘iya, dek, tapi sayang-disayangkan, dek, kita post di media. Sanksinya itu masuk kategori berat, dek. Kalau dipikir lebih siksa lagi Pak Firman dengan sanksi ini, bayangkan mi kalau ada SK begininya yang bersangkutan tidak bisa mi naik jabatan. Jadi akan ada di posisi begini terus sampai nanti. Kata lainnya tersiksa seumur hidup sebagai dosen karena tidak bisa naik jabatannya.’” Bunga membacakan kembali isi obrolan tersebut. “Saya balas, ‘terus sayanya bagaimana, Kak? Bisa dikasih semula hidupku? Bisa dikasih nda trauma dengan ini? Saya juga tersiksa ka dengan semuanya.’ Dia balas lagi, ‘itu mi, dek, kami berikan layanan psikolog. Dipecat pun, dek, nda jamin hilang traumamu.’ Kenapa bede Satgas bilang begitu?” kecam Bunga. Bukti tangkapan layar mengenai ucapan Lala kepada Bunga sebelumnya telah tersebar melalui laman Instagram @unounhas pada 27 November 2024. Dalam konferensi pers yang dihelat pada 29 November 2024, Farida Patittingi membenarkan adanya ucapan Lala tersebut kepada Bunga. “Itu dilakukan (Lala) atas inisiatif sendiri. Betul-betul hanya respon pertanyaan dari korban, kemudian lahirlah bahasa-bahasa yang memang dia (Lala) akui,” ujar Ketua Satgas PPKS Unhas itu. Farida juga menyebut bahwa ia sendiri telah meminta Lala mengajukan permohonan maaf kepada publik sebagaimana ini juga yang diminta oleh pihak Kementrian Pendidikan.

Select target paragraph3